Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Saturday, February 25, 2012

Komentar Mengenai Novel Delisa "Aceh"

Delisa anak perempuan yang bermata hijau, bening dan umurnya baru mencapai lima tahun. Dia hidup dalam keluarganya, dia mencoba menghafal bacaan dalam solat dengan bantuan ibu dan kakaknya. 

Namun Tuhan lebih tahu apa yang lebih baik untuk hamba-Nya. Tsunami datang melumatkan senyuman pada wajah Delisa. Tsunami mengambil segala-galanya, keluarga. Yang tersisa, hanya dia dan ayahnya dan dalam keadaan seperti itu apakah Delisa mampu tetap tersenyum seperti dahulu dan menyudahi hafalannya.

Welma La'anda rated it 5 of 5 stars
Shelves: fiksyen
Saya sangat menyayanginya. Saya bersyukur kerana saya dizinkan Allah untuk mengenali dan membacanya. Saya sendiri tidak tahu bagaimana secara professional untuk menilai kebagusan sebuah novel, tetapi sebagai pembaca saya menilai kebagusan sebuah buku itu daripada aspek pengaruhnya terhadap kejiwaan saya dan novel ini telah berjaya membawa saya berfikir sejenak tentang erti keyakinan dan kehidupan saya. 
Tiwik rated it 5 of 5 stars
Shelves: fiction
Ini adalah kisah tentang tsunami…
Ini adalah kisah tentang kanak-kanak…
Ini adalah kisah tentang proses memahami…
Ini adalah kisah tentang keikhlasan…
Ini adalah kisah tentang Delisa… 

Cerita DELISA dari Aceh


Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian), Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi)

26 Desember 2004, Delisa bersama Ummi sedang bersiap menuju ujian praktek shalat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan. Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara

Saturday, October 1, 2011

Sebenarnya Apa Pancasila itu?

Cerita Pancasila
Kita sudah sering  mendengar  pancasila, tapi sebenarnya apa pancasila itu?  Bagi saya pancasila itu ibarat buku manual pedoman bagi bangsa indonesia, untuk mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur .  

Ini adalah kepulauan Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, ini menunjukan bahwa indonesia adalah negara yang sangat luas. Setiap pulau didiami oleh berbagai kelompok masyarakat yang beraneka ragam, baik adat istiadat, budaya maupun kepercayaannya.  

Friday, September 30, 2011

Sebenarnya Apa Pancasila itu?

Cerita Pancasila
Kita sudah sering  mendengar  pancasila, tapi sebenarnya apa pancasila itu?  Bagi saya pancasila itu ibarat buku manual pedoman bagi bangsa indonesia, untuk mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur .  

Ini adalah kepulauan Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, ini menunjukan bahwa indonesia adalah negara yang sangat luas. Setiap pulau didiami oleh berbagai kelompok masyarakat yang beraneka ragam, baik adat istiadat, budaya maupun kepercayaannya.  
 6
Keberagaman ini adalah suatu kekayaan, suatu  kekuatan. Di negara yang memiliki keberagaman diperlukan suatu unsur perekat yang bersifat universal, unsur perekat ini adalah kepercayaan akan adanya tuhan. Inilah yang menjadi dasar yang utama. Jika kita sepakat dan meyakini adanya tuhan, maka kita akan menghormati keberagaman , karena keberagaman itu terjadi atas keinginan Tuhan. Walaupun kita beragam namun pada dasarnya kita adalah sama, yaitu manusia. 

Ketika kita sudah mampu untuk menghormati sesama manusia maka kita akan menjadi manusia yang beradab, ketika kita sudah tidak lagi membeda-bedakan manusia, ketika kita sudah menjadi manusia beradab otomatis akan tercipta persatuan, dari persatuan inilah tercipta suatu kondisi  yang akan melahirkan manusia-manusia yang bijak  dan manusia yang bijak tentu saja akan berlaku adil terhadap siapa saja. 

Nah bagaimana kondisi sekarang bakar-bakaran tempat ibadah, tawuran dan kekerasan  karena perbedan suku, agama dan golongan masih sering kita liat. Jadi untuk mencapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur. Benahi dulu hal-hal yang mendasar tadi.

Thursday, August 18, 2011

Hari Kemerdekaan RI ke 66

Pertanyaan saya  setiap tanggal 17 Agustus adalah : Sudahkah aku menjadi PANDU IBUKU? Seiring dengan pertanyaan itu serasa terngiang jelas pertanyaan Bung Karno kepada saya, "Kamu tahu tidak, apa artinya merdeka?" Saya cuma diam.

Beliau lalu berkata," Merdeka artinya kamu bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Jadi, ingat ya. Jangan biarkan kepalamu diinjak oleh bangsa lain."  

Friday, July 8, 2011

Segarnya Air Kelapa untuk Kesehatan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Sebaiknya mulai saat ini Anda harus lupakan dulu minuman bersoda, kafein, jus buah atau sport drink. Kini saatnya mengenal khasiat air kelapa. Bukan hanya mengandung mineral, air kelapa juga kaya akan nutrisi, bahkan di daerah terpencil air kelapa bisa digunakan sebagai pengganti cairan infus.

Monday, February 28, 2011

Cerita Sang Kepompong

Selalu jadi indah, menanti sebuah mentari yang akan terbit esok. Metamorfosa kepompong menjadi kupu-kupu selalu jadi inspirasi, sekian lama si ulat bulu menjadi “sang” yang menakutkan, menggelikan dan biang kegaduhan. Siapa sangka ia bisa menjadi dambaan.

Ketika ufuk timur menyingkapkan tabirnya, deretan embun bening menampakkan keceriaan, mereka bermain riang menyambut mentari pagi yang indah. Di bawah pohon talas terlihat dua gerakan yang tak begitu jelas, tiba-tiba suara muncul “saya gak nyangka kalau aku sekarang jadi dambaan para wanita, dambaan anak kecil. Sungguh beruntung diriku...” Kata ulat bulu pada seekor belalang yang dari tadi menatapnya dengan curiga. Seekor belalang coklatpun nyengir kegirangan, “semakin tua aku merasa bersyukur. Semenjak bayi aku gak pernah nyusahin orang tuaku, apalagi orang lain..” Kata belalang coklat sambil matanya berkaca-kaca. Hening sejenak, kedua binatang itu saling bertatapan, suasana haru mengalir dari daun talas.

Menjadi kepompong dalam salah satu kebudayaan disebut “tirakat”, butuh waktu, butuh perjuangan dan butuh keuletan. Kepompong tidak akan iri dengan tetangganya bahkan pada saudaranyapun, tak pernah meminum setetespun air meski didepannya berlimpahan air, ia tahu kapan sang pemilik malam mengantarkan makan malamnya.

Seperti burung selalu butuh proses untuk bisa terbang, terkadang harus terjatuh-jatuh. Jatuh kemudian bangkit terbang lagi, jatuh dari ketinggian terkadang terluka-luka, namun masih ada semangat untuk terbang lagi, terus mencoba dan mencoba sampai mampu menjaga keseimbangan, kesadaran, kosentrasi dan kecepatan.

Kepompong menjadi kupu-kupu, adalah ilustrasi, baca : “Ayat Tuhan” di panorama dunia. bahwa kesuksesan untuk terbang, mengembara melewati batas kemampuan biasa bukan perkara mustahil, karena ulatpun yang begitu pelan jalannya, dapat menjelma sebagai kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu yang luar biasa, gerakan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seekor ulat.

Menggapai kemampuan “terbang” bukan sekedar mimpi namun sering menjadi kenyataan, namun ketakutan untuk jatuh, ketakutan untuk memulai, ketakutan untuk dimarjinalkan, ketakutan untuk berbeda, ketakutan untuk melewati batas aman menjadi virus terbesar dalam diri seseorang.
photo dari : http://ahmadfarisi.files.wordpress.com/2008/08/kupu-kupu-2.jpg

Thursday, February 24, 2011

Poros Waktu

Pusaran waktu itu dimana? Apakah terletak di pergantian hari? Apakah terpusat dari keistimewaan resonansinya? Apakah tergeletak dimana saja, kemudian kita yang mewarnai waktu itu?

Ada yang bilang waktu terus mengalami pengulangan, berputar pada poros keseharian, atau waktu bagaikan air yang mengalir dan tak akan pernah terjadi pengulangan, terus berjalan, dan berjalan, melalui jalannya sendiri, sampai pada muara dan melebur menjadi satu dengan air laut, air yang terasa asin dan tak pernah kering.

Terus yang benar yang mana? Waktu adalah pengulangan atau waktu terus berjalan tanpa henti, wahh… kalau itu aku gak tau bang..!! sahut tukang becak, sambil menyeruput kopi hitamnya. Tapi kalau menurut ane sih, bukan masalah benar atau salah, tapi bagaimana cara memahaminya, toh.. sama-sama gak ngerti hakikat.

Iya yah, sahut supir angkot, sambil meletakkan pisang gorengnya yang tinggal ujugnya. Sering pemahaman itu berbeda, tergantung konteksnya, tergantung cara pandangnya, untuk apa ya? memperebutkan kebenarannya, terus klo benar kenapa? Apakah ada jaminan benar selamanya? Kagak mungkin kang.. apakah dipake untuk menghakimi yang berbeda, toh dunia kalau ada panorama warna ternyata untuk memperindah keelokan citra tuhan sendiri.
Ngomong apa kang.. ora ngerti aku, ayo narik lagi aja.. cerutus sopir yang lainnya.

Tuesday, February 15, 2011

Bunuh diri itu menular gak?


Desah nafas terasa berat, beberapa kali terpampang berita “bunuh diri”, apalagi rata-rata usianya masih tergolong muda. Kok bisa, gimana bisa terjadi? Sederet pertanyaan penting untuk mengetahui secara mendalam terhadap kasus ini.
Penyebabnya apa? Apa gara-gara uang 20 ribu? Apa karena tidak diberi uang tiket nonton bola? Atau karena beberapa alasan lain yang begitu familiar (hutang/susah makan/kemiskinan) di depan kita.

So, gimana prosesnya? Menurut beberapa psikolog seh, uang 20 ribu itu hanya sebagai pemicu (triger), sebenarnya fenomena itu bagai gunung es, pemicunya adalah permukaan yang tampak didepan kita, sedangkan permasalahan sebenarnya masih tersembunyi.

Ada beberapa asumsi, mungkin saja masalah dengan keluarganya yang mendahului, bisa jadi bertumpuknya persoalan yang dihadapi. Tertekan, malu, putus asa terus tidak tahu kepada siapa harus bicara, bagaimana cara mengatasinya. Balik lagi kerumah tidak menemukan kasih sayang, perhatian dan cinta, rumah tidak ada kenyaman lagi. So, mo kemana lagi, ke jembatan? Ke mall? apalagi arus informasi begitu deras, bisa jadi pola bunuh diri ditiru.

“Rumahku Surgaku” adalah tonggak kokoh yang bisa mereduksi persoalan yang cukup mengejutkan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi di tengah masyarakat yang “serba gelap” tidak banyak figur yang bisa dicontoh, hukum, nilai bisa dijual belikan.

Monday, November 16, 2009

Setetes Embun

Malam semakin larut, langit bersemburat merah, keremangan malam terasa sepi, aku berjalan terhuyung menapaki trotoar jalan, kacau pikiran ini, senyuman yang biasanya tersebar kini menciut, para pejalan kaki yang lalu lalang tak merubah konsentrasi di pikiran.

ku berdiri di jalan layang citraland, sepi, hanya angin malam mulai menemani, sorot kendaraan pribadi makin menyilaukan mata, sakit, perih terasa hati ini, mata mulai kabur, seharian jalan kaki tanpa mengenal lelah, sebotol minuman air putih masih erat ku genggam, jauh ku tatap taman anggrek, megah berkilau cahaya.

Usai rapat bersama, ku telpon temanku yang masih kuliah di universitas swasta ternama di Jakarta, sambil ku rebahkan tubuh ini di ranjang putih, berkali-kali tak ada jawaban. ahhh… perih terasa sakit hati ini, menyayat-nyayat terasa.

Wednesday, November 11, 2009

Hujan Gerimis

Hujan rintik-rintik turun perlahan-lahan, udara berhembus menerpa tubuhku yang sedang bersandar di bawah pohon besar, bau gurih tanah berhamburan, mengingatkanku pada sosok gadis elok, yang senyumannya menggoda ketenangan tidurku, setiap sore ia menyirami taman bunga indah di depan rumahnya, aku berusaha menangkap setiap titik hujan yang turun di depanku, ku lihat dengan jelas air yang turun, mereka saling mendahului, namun begitu teratur mengikuti aturan alam.

Daun-daun pohon basah, tetesan air hujan menyentuh rambutku yang selama seminggu belum tersentuh air, pakaian ku mulai dirabah air, aku mulai merasa kedinginan, jauh didepan sana, tiga anak sedang bermain-main air hujan, mereka berlari-lari kecil, sambil melemparkan senyuman, tanpa merasa ketakutan, tanpa merasa kedinginan, tanpa merasa cemas, sesekali mereka membenturkan kaki di genangan air, airpun muncrat, meloncat tanpa arah, genangan air itu kembali lagi, titik hujan mulai kelihatan jelas menyentuh genangan air itu, tetes demi tetes bekasnya mulai membentuk gerakan, gerakan menyebar, gerakan melingkar, terkadang gerakan yang berbenturan.

Wah alangkah indahnya klo gerakan itu diabadikan… pikirku, aku merapikan rambutku yang basah, ku usap mukaku beberap kali, ku tarik nafas dalam-dalam, ku temukan dalam kantongku, selembar kertas, ku buka pelan-pelan, “apakah kamu ingin menjadikan mereka (orang lain) seperti apa yang kamu inginkan, seperti apa yang kamu harapkan, ataukah kamu ingin menjadi seperti apa yang mereka inginkan/harapkan, atau sebenarnya kamu tidak mau tau apa yang kamu sendiri inginkan dan mereka inginkan.”.

kuulangi kalimat tu beberapa kali, namun aku belum bisa memehaminya, maka satu persatu ku pisahkan kalimat itu, ku coba mencerna makna dalam kalimat itu, apakah kamu berharap dia akan menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Atau kamu ingin menjadi apa yang dia inginkan, atau kamu dan dia tidak mau tau keinginan masing-masing.

Aku membeku, aku terdiam, ku masuk dalam pikiranku, ku menyelami perasaanku sendiri, ku bertanya pada mereka, apa yang aku inginkan.
Tak sepatah katapun ku temukan, tak ada goresan dan tanda-tanda jawaban kalimat itu.